MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“ISLAM MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN”
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Umum Pendidikan Agama Islam
Dosen Pengampu : Bp.Mukhamad Shokheh
Oleh:
Nama : NOOR INAYAH HARDIANTI
NIM : 3201414011
PRODI : PENDIDIKAN GEOGRAFI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah Pendidikan Agama Islam tentang Kelurusan, “Islam Menjawab Tantangan Zaman” ini saya susun untuk memenuhi tugas mata kuliah umum Pendidikan Agama Islam. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini.
Pada kesempatan ini, dengan tulus ikhlas saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak selaku dosen pembimbing dalam pembuatan makalah ini, untuk keberhasilan dalam penyusunan makalah ini.
Saya selaku penyusun berharap semoga makalah ini ada guna dan manfaatnya bagi para pembaca. Amin.
Semarang, 18 Maret 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Dunia modern yang antara lain ditandai oleh semakin hilangnya batas ruang dan waktu telah membuat kehidupan manusia semakin kompleks. Semakin cepatnya perputaran siklus kehidupan, membuat orang merasakan terbatasnya waktu yang hanya tersedia 24 jam sehari. Untuk memperluas kemampuan manusia mengatasi keterbatasan waktu tersebut dibuatlah perangkat teknologi seperti internet. Ini berguna untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah setiap manusia dalam merebut peluang kehidupan didunia ini.
Disamping itu, sebagian orang berpendapat bahwa “kembali ke Islam artinya kembali ke zaman doeloe”. Ada juga yang mengatakan, “jika kembali ke Islam kita akan mundur beberapa ratus tahun ke belakang, seolah-olah jika kita menjalankan aturan Islam secara kaffah maka kita harus meninggalkan semua teknologi yang kita miliki”.
Perbedaan pendapat dan sikap umat Islam dalam menyikapi modernisasi inilah yang mendorong kami untuk mencoba menyampaikan informasi yang sebenarnya mengenai Islam dan modernisme. Dunia yang berorientasi materialistik telah menghantarkan manusia kedalam kehidupan tanpa kebahagiaan. Semakin kaya harta, semakin miskin mereka dalam kebahagiaan hidup. Tetapi dalam Islam bekerja keras mengumpulkan ilmu dan harta merupakan ibadah, karena ilmu dan harta tersebut harus diamalkan untuk kepentingan umat manusia.
Kegiatan mengumpulkan ilmu dan harta pasti tidak akan lepas dari kerja keras dan pemanfaatan waktu, tenaga, dan biaya secara efisien. Kesibukan inilah yang seringkali menggoda manusia untuk melupakan Allah, saudara sesama muslim dan bahkan dirinya sendiri. Padahal jika disadari, semua yang dilakuikan manusia adalah sia-sia tanpa ridho dan kekuasaan Allah.
Saat ini banyak orang yang bertindak “semau gue”, mereka menunda-nunda waktu sholat, puasa, zakat, dan lainnya. Mereka menganggap bahwa ibadah-ibadah ini tidak memberikan dampak dalam ekonomi dan materi. Padahal prilaku seseorang itu ditentukan oleh kualitas imannya, jika iman mereka bagus dan mantap maka akan melahirkan prilaku yang bagus. Maka sasaran utama yang dilakukan adalah bagaimana meluruskan kualitas akidah dan ibadah mereka.
B.RUMUSAN MASALAH
1.Apa pengertian dari tantangan zaman ?
2. Bagaimana cara islam menjawab tantangan zaman ?
3.Apakah yang menjadi landasan hukum islam dalam menjawab tantangan zaman ?
C.TUJUAN
1.Untuk mengetahui definisi dari tantangan zaman
2. Untuk mengetahui cara islam dalam menjawab tantangan zaman
3. Untuk mengetahui landasan hukum islam dalam menjawab tantangan zaman
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.Pengertian Tantangan Zaman
Bila dikaitkan dengan peradaban, maka modern identik dengan barat, karena peradaban modern terbentuk setelah bangsa-bangsa Eropa melampaui masa abad pertengahan yang dikenal dengan istilah “Renaissanse” yang artinya kelahiran kembal. Banyak pemikir terkenal seperti Gabriel Almond, James Coleman, Karl Deutsch, Mc.T. Kahin, kelompok pluralis dan liberalis, beranggapan bahwa modernisasi identik dengan westernisasi, sekularisasi, demokratisasi, dan liberalisasi. Pengertian tersebut menghasilkan sebuah hipotesis bahwa religiousitas (sikap keberagamaan) akan bertentangan dengan modernisasi. Dan mereka mengungkapkan bahwa bangsa-bangsa yang dianggap modern adalah bagian dari tradisi Eropa (termasuk Amerika Serikat.
Tantangan zaman, dapat diartikan munculnya fakta, keadaan, atau problem baru seiring dengan perkembangan waktu. Misalnya, dulu tidak ada kloning, bayi tabung, dan transplantasi, namun kini kemajuan di bidang biologi dan kedokteran itu telah hadir di hadapan kita. Itu tantangan zaman. Dulu tidak terbayang ada sarana komunikasi dan informasi yang canggih seperti internet saat ini. Dengan adanya internet, berarti ada tantangan zaman. Penyakit AIDS, penggunaan narkoba, pergaulan bebas yang liar di kalangan muda-mudi, sekarang makin menggila. Ini adalah tantangan zaman. Sebelumnya tidak ada negara Israel. Namun sekarang Israel bercokol dan mengangkangi bumi Palestina yang suci dan diberkahi. Ini tantangan zaman. Kita umat Islam dulu memiliki sistem Khilafah sebagai institusi yang memungkinkan adanya kehidupan Islam, tetapi pada tahun 1924 Khilafah diluluhlantakkan oleh Mustafa Kamal yang murtad. Tiadanya Khilafah, adalah tantangan zaman. Sekarang penguasa negeri-negeri? Islam telah mencampakkan ideologi Islam, menganut dan menerapkan ideologi Kapitalisme, serta menjadi agen-agen yang setia bagi negara-negara penjajah yang kafir. Ini betul-betul tantangan zaman. Demikian seterusnya.
Setiap tantangan, pasti butuh jawaban dan penyelesaian. Dalam hal ini, Islam sebagai ideologi sempurna secara potensial menyediakan jawaban-jawaban bagi segala masalah atau persoalan yang timbul di tengah manusia.
B.Cara Islam Menjawab Tantangan Zaman
Islam menempuhnya dengan cara beradaptasi, menyesuaikan diri, atau mengubah hukum-hukumnya agar selaras dengan tuntutan keadaan. Dalihnya, Islam itu luwes, fleksibel, tidak kaku, tidak ekstrem, tetapi moderat, lunak, dan selalu bersikap kompromistis dengan realitas. Dalih batil itu kadang juga dilengkapi dengan kaidah ushul fiqih yang fatal kekeliruannya : Laa yunkaru taghayyurul ahkam bi taghayyuriz zaman wal makan. (Tidak boleh diingkari, adanya perubahan hukum karena perubahan waktu dan tempat). Setiap tantangan, pasti butuh jawaban dan penyelesaian. Dalam hal ini, Islam sebagai ideologi sempurna secara potensial menyediakan jawaban-jawaban bagi segala masalah atau persoalan yang timbul di tengah manusia. Taqiyyuddin An Nabhani dalam Asy Syakshiyah Al Islamiyah (juz I/303) menguraikan secara ringkas metode (thariqah) Islam untuk memecahkan masalah, yaitu memahami fakta persoalan sebagaimana adanya, lalu memberikan solusi padanya. Solusi ini bisa berupa Syariat Islam bila persoalannya berkaitan dengan hukum-hukum syariat, dan bisa pula berupa cara (uslub) dan sarana (wasilah) tertentu jika persoalan yang dihadapi tidak secara langsung berhubungan dengan hukum syariat, misalnya teknik dalam pertanian, kedokteran, kesehatan, dan sebagainya. Secara lebih khusus, dalam Nizhamul Islam (hal. 69), Taqiyyuddin An Nabhani menjelaskan metode Islam yang harus ditempuh para mujtahidin untuk memecahkan persoalan. Pertama, mempelajari dan memahami problem yang ada (fahmul musykilah). Kedua, mengkaji nash-nash syariat yang bertalian dengan problem tersebut (dirasatun nushush). Ketiga, mengistinbath hukum syariat dari dalil-dalil syariat untuk menyelesaikan persoalan yang ada (istinbathul hukmi).
Metode itulah yang dapat kita gunakan untuk menjawab setiap tantangan zaman. Secara ringkas, Islam menjawab tantangan zaman dengan cara memberikan pemecahan terhadap problem-problem baru yang muncul. Inilah pengertian yang benar mengenai bagaimana Islam menjawab tantangan zaman yang terjadi.
Pergulatan modernitas dan tradisi dalam dunia Islam melahirkan upaya-upaya pembaharuan terhadap tradisi yang ada. Harun Nasution menyebut upaya tersebut sebagai gerakan pembaruan Islam, bukan gerakan modernisme Islam. Menurutnya, modernisme memiliki konteksnya sebagai gerakan yang berawal dari dunia Barat bertujuan menggantikan ajarannagama Katolik dengan sains dan filsafat modern. Gerakan ini berpuncak pada proses sekularisasi dunia Barat (Nasution; 1975, 11).
Berbeda dengan Nasution, Azyumardi Azra lebih suka memakai istilah modern dari pada pembaruan. Azra beralasan penggunaan istilah pembaruan Islam tidak selalu sesuai dengan kenyataan sejarah. Pembaruan dalam dunia Islam modern tidak selalu mengarah pada reaffirmasi Islam dalam kehidupan muslim. Sebaliknya, yang sering terjadi adalah westernisasi dan sekularisasi seperti pada kasus Turki (Azra; 1996, xi)
Apa yang disampaikan Azra adalah kenyataan modernisme dalam makna subyektifnya, sedangkan Nasution mencoba melihat modern dengan makna obyektif. Memang harus diakui, ekspansi gagasan modern oleh bangsa Barat tidak hanya membawa sains dan teknologi, tetapi juga tata nilai dan pola hidup mereka yang sering kali berbeda dengan tradisi yang dianut masyarakat obyek ekspansi. Baik dalam makna obyektif atau subyektifnya, modernitas yang diimpor dari bangsa Barat membuat perubahan dalam masyarakat muslim, di segala bidang. Pada titik ini umat Islam dipaksa memikirkan kembali tradisi yang pegangnya berkaitan dengan perubahan yang sedang terjadi. Respons ini kemudian melahirkan gerakan-gerakan pembaruan. Tetapi, pembaruan Islam bukan sekedar reaksi muslim atas perubahan tersebut. Degradasi kehidupan keagamaan masyarakat muslim juga menjadi faktor penting terjadinya gerakan pembaruan. Banyak tokoh-tokoh umat yang menyerukan revitalisasi kehidupan keagamaan dan membersihkan praktek-praktek keagamaan dari tradisi-tradisi yang dianggap tidak islami.
Mencermati fenomena peradaban modern yang dikemukakan di atas, kita harus bersikap arif dalam merespons fenomena-fenomena tersebut. Dalam arti, jangan melihat peradaban modern dari sisi unsur negatifnya saja, tetapi perlu juga merespons unsur-unsur positifnya yang banyak memberikan manfaat dan mempengaruhi kehidupan manusia. Maka, yang perlu diatur adalah produk peradaban modern jangan sampai memperbudak manusia atau manusia menghambakan produk tersebut, tetapi manusia harus menjadi tuan, mengatur, dan memanfaatkan produk perabadaban modern tersebut secara maksimal.
Untuk menyikapi tentang tantangan di zaman modern ini dapat dilakukan pula dengan cara : Memasukkan ke Pesantren, Madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain masih menganut sistem lama, kurikulum ditetapkan merupakan paket yang harus diselesaikan, kurikulum dibuat tanpa atau sedikit sekali memperhatikan konteks atau relevansi dengan kondisi sosial masyarakat bahkan sedikit sekali memperhatikan dan mengantisipasi perubahan zaman, sistem pembelajaran berorientasi atau berpusat pada guru.
Reformulasi pendidikan Islam merupakan hal sangat penting.
M. Amin Abdullah yang mengajukan beberapa alternatif formulasi pendidikan Islam yang dapat diterapkan, di antaranya :
1. Memperkenalkan kepada para siswa persoalan-persoalan modernitas yang dihadapi umat Islam saat ini dan mengajarkan pendekatan keilmuan sosial keagamaan yang saat ini berkembang
2. Pembelajaran ilmu-ilmu keislaman tidak selalu bersifat doktrinal, melainkan disampaikan melalui pendekatan sejarah dari doktrin-doktrin tersebut sehingga memunculkan tela’ah kritis yang apresiatif konstruktif terhadap khazanah intelektual klasik sekaligus melatih merumuskan ulang pokok-pokok rumusan realisasi doktrin agama yang sesuai dengan tantangan dan tuntutan zaman
3. Pembelajaran yang bertumpu pada teks (nash) perlu diimbangi dengan analisa yang mendalam dan cerdas terhadap konteks dan realitasnya.
4. Pengajaran tasawuf atau pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual sangat diperlukan dan pelaksanaan pendidikan Islam tidak terlalu menekankan pada aspek kognitif siswa (intelektual)
5. Pendidikan agama Islam tidak hanya diarahkan kepada pembentukan “kesalehan individual” tetapi juga mengembangkan pembentukan “kesalehan sosial”
Dalam pada itu, menjawab tantangan zaman hendaknya disikapi secara positif. Manakala kita berhasil menjawab tantangan zaman, maka kita akan memperoleh banyak manfaat. Tidak hanya untuk pribadi kita, namun juga kehidupan masyarakat. Tentunya, dalam menyikapi tantangan zaman kita harus berpedoman nilai – nilai ajaran agama yang ada dalam Al Qur’an dan Al hadist agar kita tidak akan tersesat dalam derasnya arus kehidupan.
C.Landasan hukum islam dalam menjawab tantangan zaman
Sebagai agama yang sempurna (QS. Al Maidah 3) Islam mampu menjawab tantangan zaman. Tidak ada masalah yang muncul dari masa ke masa melainkan para mujtahid akan menjawab status hukumnya menurut syariah. Dan Al Quran sendiri dinyatakan oleh Allah SWT sebagai obat, untuk mengatasi segala persoalan. Allah SWT berfirman:
“Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS.Al Isra82).
Oleh karena itu, tugas para ulama dan penguasa Negara-negara muslim hari ini adalah menumbuhkan para ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu syariah dan mampu berijtihad, sehingga dapat menjawab segala tantangan zaman hari ini, dan tumbuh suatu gerakan kebangkitan umat, sehingga umat merasa tinggi dengan ilmu-ilmu Allah, dan tidak minder dengan kaum kafir, sehingga umat mencapai kejayaannnya kembali. Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 139).
“Hukum Islam menjawab tantangan zaman”. Ada beberapa hal terkait dan menarik. Yang pertama adalah bahwa manusia menginginkan suatu kehidupan yang aman, tertib, nyaman, penuh keserasian / kerukunan, dan suatu hidup yang penuh ketertiban dan seterusnya.Dari kehidupan tersebut telah memungkinkan manusia dapat beraktivitas dalam seluruh kehidupan¬nya, dalam bidang ekonomi budaya dan lain sebagainya manusia membutuhkan situasi yang seperti itu.
Karena itulah harus ada aturan, dan aturan itu sifatnya harus kokoh, harus kuat dan harus berasal dari yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT, yang dielaborasi, diuraikan, dijelaskan oleh Rasululoh SAW dan kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh berbagai peraturan pemerintahan. Di sinilah Al-Qur’an surat Annisa ayat 59 يَآأَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ artinya : “Wahai orang –orang yang beriman taatlah kamu sekalian kepada Allah (yakni kepada Al Qur’anulkarim), dan taatlah kamu sekalian kepada Rasul (kepada sunnahnya atau kepada hadistnya termasuk kepada sunah nabawiyahnya) dan kepada orang yang menguasai perkara…” (Imam Al Maruki).
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tantangan zaman, dapat diartikan munculnya fakta, keadaan, atau problem baru seiring dengan perkembangan waktu. Islam menempuhnya dengan cara beradaptasi, menyesuaikan diri, atau mengubah hukum-hukumnya agar selaras dengan tuntutan keadaan. Islam menempuhnya dengan cara beradaptasi, menyesuaikan diri, atau mengubah hukum-hukumnya agar selaras dengan tuntutan keadaan. Dalihnya, Islam itu luwes, fleksibel, tidak kaku, tidak ekstrem, tetapi moderat, lunak, dan selalu bersikap kompromistis dengan realitas. Dalih batil itu kadang juga dilengkapi dengan kaidah ushul fiqih yang fatal kekeliruannya : Laa yunkaru taghayyurul ahkam bi taghayyuriz zaman wal makan. (Tidak boleh diingkari, adanya perubahan hukum karena perubahan waktu dan tempat). Setiap tantangan, pasti butuh jawaban dan penyelesaian. Dalam hal ini, Islam sebagai ideologi sempurna secara potensial menyediakan jawaban-jawaban bagi segala masalah atau persoalan yang timbul di tengah manusia. Sebagai agama yang sempurna (QS. Al Maidah 3) Islam mampu menjawab tantangan zaman. Tidak ada masalah yang muncul dari masa ke masa melainkan para mujtahid akan menjawab status hukumnya menurut syariah. Dan Al Quran sendiri dinyatakan oleh Allah SWT sebagai obat, untuk mengatasi segala persoalan.
B.SARAN
Memang dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan. Dibutuhkan kritik yang mendukung untuk pembuatan makalah yang selanjutnya.Semoga dengan adanya makalah ini dapat berguna bagi pembaca. Harapannya, kita dapat mengendalikan dinamika kehidupan dengan selalu menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, kita jangan sampai dikendalikan oleh zaman, tetapi kita yang selalu mengendalikan zaman sehingga kita tidak akan mudah goyah tatkala terkena arus pergerakan gelombang kehidupan.Amin Ya Rabbal Alamin.
DAFTAR PUSTAKA
http://alfaniable.blogspot.com/2009/03/pendidikan-islam-menghadapi-tantangan.html
http://www.gaulislam.com/ideologi-islam-menghadapi-tantangan-zaman
http://www.suara-islam.com/read/index/4729/-Islam-Menjawab-Tantangan-Zaman-
http://wurtj.blogspot.com/2012/12/aqidah-islam-dan-tantangan-zaman.html

0 komentar:
Posting Komentar